
Yang saya hormati, Bapak/Ibu Pimpinan Perguruan Tinggi,
Dan yang sangat saya banggakan, Bapak dan Ibu Dosen sekalian.
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin dan kasih-Nya, kita dapat berkumpul di pagi yang cerah ini dalam keadaan sehat dan penuh semangat. Kita patut bersyukur, sebab apel pagi di awal Mei ini berada dalam dua momen peringatan yang sangat relevan dengan tugas dan panggilan kita: kemarin, 1 Mei, kita memperingati Hari Buruh Sedunia, dan besok, 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Bapak dan Ibu yang saya hormati,
Dua tanggal ini, sejatinya, adalah dua sisi dari koin perjuangan yang sama: perjuangan untuk memanusiakan manusia. Hari Buruh adalah perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat para pekerja, memastikan mereka diperlakukan secara adil, manusiawi, dan sejahtera. Hari Pendidikan Nasional, yang kita ambil dari hari lahir Ki Hadjar Dewantara, adalah perjuangan untuk memerdekakan manusia melalui budi pekerti dan ilmu pengetahuan.
Jika kita renungkan, apa yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara dan apa yang diperjuangkan oleh gerakan buruh dunia sesungguhnya bertemu di satu kata kunci: kemerdekaan. Buruh berjuang agar merdeka dari eksploitasi dan kemiskinan. Pendidikan berjuang agar manusia merdeka dari kebodohan dan ketertindasan. “Merdeka dari,” kata Ki Hadjar, “bukan berarti lepas, melainkan berdiri sendiri dengan kekuatan sendiri menuju keselamatan dan kebahagiaan lahir batin.”
Lalu, di manakah posisi kita, para dosen, dalam persinggungan dua perjuangan besar ini?
Bapak dan Ibu dosen sekalian,
Kita adalah “buruh pengetahuan” dalam arti yang paling mulia. Kita bekerja. Kita berkeringat. Kita mencurahkan pikiran dan tenaga. Kita memiliki hak yang harus dihormati, dan kita juga memiliki kewajiban yang harus ditunaikan dengan integritas. Semangat Hari Buruh mengingatkan kita bahwa kesejahteraan lahir—berupa hak-hak yang adil, lingkungan kerja yang sehat, dan penghargaan yang proporsional—adalah fondasi penting agar kita bisa bekerja dengan tenang dan bermartabat. Jangan pernah ragu bahwa memperjuangkan kesejahteraan bersama adalah bagian dari menjaga marwah profesi ini.
Namun, kita bukan sekadar buruh. Kita adalah pendidik. Dan di sinilah semangat Hari Pendidikan Nasional menyempurnakannya. Dalam filosofi Ki Hadjar, pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih peradaban. Maka, kesejahteraan lahir yang kita perlukan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana agar kita bisa dengan totalitas menjalankan panggilan jiwa: menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak didik kita.
Hari Buruh tanpa semangat pendidikan hanya akan melahirkan tuntutan material yang kering makna. Sebaliknya, Hari Pendidikan tanpa semangat keadilan sosial—yang merupakan inti perjuangan buruh—hanyalah retorika di menara gading yang tak membumi. Tugas kita, terutama di perguruan tinggi swasta, adalah menjahit keduanya. Kita adalah contoh nyata bahwa seorang pekerja profesional yang sejahtera dan dihormati mampu menghasilkan karya pendidikan yang memerdekakan.
Saya ingin mengajak Bapak dan Ibu untuk meneladani semangat Ki Hadjar dalam tiga prinsip sederhana yang bisa kita bawa ke ruang kelas esok hari:
- Ing Ngarso Sung Tulodo – Di depan memberi teladan. Di era banjir informasi ini, integritas kita adalah teladan yang tak bisa diunduh oleh mahasiswa dari internet. Tunjukkan bahwa kerja keras, kejujuran, dan disiplin adalah identitas kita sebagai “pekerja” dan “pendidik”.
- Ing Madyo Mangun Karso – Di tengah membangun kemauan. Jadilah fasilitator yang menggali potensi, bukan sekadar penyampai materi yang menggurui. Bangunlah motivasi intrinsik mahasiswa kita. Ini adalah wujud perjuangan kita melawan “kebodohan” dalam bentuknya yang paling modern: kemalasan berpikir kritis dan tergerusnya daya juang.
- Tut Wuri Handayani – Dari belakang memberi dorongan. Percayalah pada kemampuan mahasiswa kita. Tugas kita adalah memberi kepercayaan dan mendorong mereka untuk berani melangkah, berani mencoba, dan tidak takut gagal. Inilah kemerdekaan sejati yang kita wariskan.
Bapak/Ibu sekalian yang saya banggakan,
Peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional di minggu ini adalah pengingat yang luar biasa. Kita adalah para pekerja yang bermartabat, dan sekaligus pendidik yang memerdekakan. Kombinasi inilah yang akan membawa perguruan tinggi swasta kita menjadi mercusuar, tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi lulusan yang mampu menciptakan pekerjaan, menjunjung tinggi keadilan, dan memanusiakan manusia.
Mari kita bekerja dengan semangat buruh: solidaritas, kerja keras, dan pantang menyerah. Mari kita mendidik dengan semangat Ki Hadjar: cinta kasih, keteladanan, dan pembebasan.
Dirgahayu Pahlawan Pendidikan dan Pekerja Indonesia.
Selamat berjuang, selamat mengabdi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.